Pesta ulang tahun gue yang ke-17 tahun berlangsung meriah. Teman-teman gue datang, dari mulai yang teman SD gue dulu sampai waktu itu gue SMA kelas 2, bahkan guru matematika SMA GUE. saudara-saudara gue, semuanya happy di pesta ulang tahun gue. Bahagia dan bersyukur nya gue sangat luar biasa. Sampai ada salah satu teman gue yang rela ngebatalin les nya demi pesta ulang tahun gue.
Kado udah terlalu banyak di kamar, dan gue udah ga sabar buat ngebukain satu persatu kado-kado tersebut. Nggak ada yang istimewa, nggak ada yang aneh-aneh semua terlihat wajar seperti alakadarnya.
Singkat cerita ( sabtu, 14 maret 2015) gue udah harus sekolah sehabis pesta pada jumat malam kemarin. Gue sekolah. Dan setiba nya di sekolah masih ada beberapa orang yang ngebahas soal pesta ulang tahun gue kemarin malam, gue pun masih ngebahas nya sama teman sebangku gue lestari. Dan sedikit pembahasan kecil sama teman paling baik di kelas gue kurnia rizky.
Pukul 11:30 *kurang lebih*
Gue dan 3 orang teman gue dan 1 adik kelas gue di SMA. ( zulfa, grace, lestari+mikha). Kita pada bingung mau kemana, waktu keluar dari pagar parkiran sekolah. Gue yang selalu nebeng sama lestari setiap pulang sekolah cepet, zulfa yang 1 komplek sama lestari kadang ngikut nganter gue ke rumah kadang juga enggak, grace pasti sama mikha karena mikha itu adik sepupunya grace. Grace sama mikha sewaktu itu milih buat main ke rumah dan zulfa memilih untuk berpencar dari kita. "Kita ke rumahnya tiara aja."ujar grace sambil nyetir motor di pinggir jalan. " yaudah ayok." Sahut gue santai.
Akhirnya kita memilih untuk, main ke rumah gue sendiri.
Singkat cerita kita pada foto-foto, ngemil-ngemil, ngegosib-gosib, ketawa-ketawa. Tiba-tiba zulfa yang tadi nya mencar sama kita datang ke rumah gue dengan buru-buru, dan wajahnya yang ceria
(selalu). Tergesah-gesah sambil ketawa-ketiwi menghancurkan duduk santai gue dengan tari,
grace,dan mikha.
"tete ajak kita ngopi-ngopi!!!" Seru zulfa yang dengan wajah ceria dan ketawa-ketiwinya. "Serius?!" Tanya tari yang selalu heboh jika ada yang mau neraktir kita. "serius!!! Ada sms nya ni." Tekan zulfa. " yaudah bilang ok, kita meluncur" seru gue yang jadi ikutan heboh. Kita semua jadi heboh dan terus-terussan ketawa. "Tapi saya tidak punya pulsa buat ngebalas sms nya." Seru zulfa sambil ketawa. "Eh ini pake handphone mika aja." Seru grace sangking pinginnya ngopi-ngopi. "Balas iya kita datang, jam berapa dan dimana. Di bawahnya pake nama tiara." Tambah grace sambil ngasih handphone nya mikha ke zulfa. Gue yang waktu itu sempat marah, karena nama gue di jual-jual untuk mengiyakan ajakan dari teman sekelas kita "tete" tete itu sarwan ngedihu, yang selalu gue ceritain di tulisan gue sebelum-sebelumnya.
Singkat cerita malam pun tiba pukul 17:25, waktu itu malam minggu anak muda di kota merauke yang gaul abis selalu bepergian bermalam minggu sama teman-teman, atau sama pacar, atau hanya sendirian mengelilingi kota merauke yang amat kecil ini, sedangkan gue yang selalu ngga pernah bepergian kemana-mana selama malam minggu di kota merauke ini. Gue waktu itu selalu ngajak nyokap keluar, jalan bareng gue. Tapi nyokap selalu ga pernah mau, dia malah nyuruh gue untuk pergi sama teman-teman gue. Sedangkan gue males. Waktu itu gue lagi dekat sama cowok, dia sempat ngajak janjian untuk malam nanti jalan bareng dia, gue ga langsung meng iyakan karena buat gue, gue belum pernah kenal sama cowok ini. Terus kenapa gue bisa dekat sama dia ? Ya karna gue di comblangin sama teman gue yang namanya zulfa. Sore itu gue mutusin untuk nge-bbm si sarwan ini di bbm gue. Kebetulan gue punya kontak bbm nya. Karena teman-teman gue, pada gue nanyain jadi atau tidak nya kita ngopi-ngopi. Karena sarwan, yang ngajak kita ngopi-ngopi ini hilang kabar begitu tau yang nge-sms dia adalah mikha adik sepupu cowok dari grace yang kebetulan adik kelas gue dan teman-teman gue. Kita emang sering main sama-sama. Akhirnya gue yang harus turun tangan demi ngopi-ngopi itu. Sarwan adalah teman sekelas gue, tari, zulfa, dan grace. Anak SMA dulu jaman nya gue, seneng abis kalau di ajak ngopi-ngopi. Apalagi kalau di traktir. Akhirnya gue memberanikan diri untuk nge-bbm si sarwan ini. Sebelumnya gue ga pernah chat sama dia, pernah waktu itu karena gue takut cuma gue yang liburan semesternya paling lama. Setelah itu kita jarang chat di bbm. Jujur gue takut sama dia. Dia suka nge-bully gue kalau di kelas, apapun yang dia bilang, selalu ujung-ujungnya ya ngebully gue. "sarwan, jadi tidak ngopi-ngopi nya ?." Tanya gue di bbm, kemudian ga lama setelah gue nulis, bbm gue langsung di balas "malas, kalian sudah bohongin saya." Balasnya kesal. Karena signyal di kota itu sanga lah susah Untuk bbm an , gue langsung balas bbm nya lagi "lanjut chat nya di sms saja yaa.. Bbm signyal ga bagus Ini nomorku." Balas gue tapi susah terkirimnya. Akhirnya kita berdua melakukan pembicaraan ngopi-ngopi itu lewat sms untuk beberapa menit. Sambil menunggu magrib dan malam minggu akan segera tiba. Tanpa terasa gue smssan sama sarwan sampai dengan magrib tiba, lalu adzan magrib pun berkumandang *allahuakabar allahuakbar....* gue langsung mengambil air wudu untuk shalat margrib. Singkat cerita setelah gue shalat magrib, handphone gue berdering beberapa kali. Dan gue ngeliat kalau nomornya si sarwan ini menelfon gue. Telfon dari nomor nya sarwan pun masuk lagi, dan kali ini gue angkat. "Halo..." Jawab gue ke sarwan. "halo.. Tiara, lama sekali ngangkat telfonnya." Tanyanya dengan nada sedikit sinis. "Iyaa, habis shalat soalnya." Jawab gue juga dengan nada sedikit sinis "oh iyaya saya juga hehe. kamu sudah baca sms dari saya ?" Tanyanya. "sms apa ? Ga ada sms." Jawab gue heran. "Masa ? Yaudah
saya ngomong lewat telfon saja. Malam ini kita jalan yuk." Ajak nya tanpa ada kata perantara. Gue hanya diam, dan merasa heran, sedikit menjauhkan handphone dari telinga sambil mengerutkan dahi dan dagu. "halo..." Tanyanya lagi dengan nada sedikit keras, sepertinya dia Berfikir kalau gue ga dengar yang dia bilang. Gue yang langsung mendekatkan lagi handphone ke telinga gue pun berkata "halo.. Iya saya dengar." Jelas gue yg juga sedikit teriak. "Ayok kita jalan, malam ini. Mau tidak ?." Tanya nya lagi. "Mmh kemana ?. Di kasi makan atau tidak? Malas kalau hanya jalan tapi ngga di kasih makan." Seru gue becandain dia. "Ya makan lah, kalau jalan sama saya pasti makan." Jawab nya lagi, menjawab becandaan gue. "Haha Yaudah boleh saya siap-siap dulu yaa." Jawab gue lagi mengiyakan ajakan dari sarwan teman yang paling gue takuti di kelas. " oke, sms yaa kalau sudah siap biar saya jemput." Jawab nya lagi. "Oke da..". Singkat gue. "dadah..." jawabnya lagi dari ujung telfon. *telefon pun sama-sama kita tutup* .
Pukul 18:30. Hujan gerimis mebasahi kota merauke saat itu, pikiran gue sarwan ngga bakal datang karena hujan gerimis ini cukup besar. Tapi gue tetap nunggu, karena sudah terlanjur janji dan dia pun bilang di sms kalau dia udah dalam perjalanan. Pikiran gue bilang dia bakal bohongin gue, karena seperti yang gue tau dia hobi banget jailin gue. Dan hujan gerimis yang tadinya besar, jadi mereda tapi menyisahkan gerimis-gerimis kecil. *ting.....* 1 pesan pun masuk. "Saya sudah di depan, keluar dong." Katanya via pesan singkat. Gue pun membuka pintu ruang tamu, dan ngeliat keluar di dekat gazebo, di bawah pohon-pohon dengan keadaan sedikit gerimis yang kembali sedikit membesar, terlihat seorang laki-laki dengan ninja hijau bercelana pendek, berbaju hitam tanpa jaket sambil menyilangkan kedua tangan nya ke badan bagian depannya yang seolah mengatakan sedang menahan dinginnya malam, dan hujan. Gue ketawa kecil di depan pintu sambil menyuruh nya masuk ke teras rumah gue yang ngga terkena rintikan hujan gerimis. "Sini masuk, ngapain di situ gelap-gelap." Sambil sedikit ketawa. Lalu dia lari dan berteduh di teras gue bagian samping. Gue ga bisa berhenti ketawa kecil. "Mmmmm.... Harum sekali...." Seru gue sambil sok-sok ngendus ke arah nya. Dia hanya ketawa malu-malu sambil menundukan kepala. "Ternyara sarwan ganteng eeee..." Seru gue lagi mencairkan suasana. "Ah biasa saja kok. Kamu juga cantik" Sambil ketawa malu-malunya dan menunduk kan kepalanya. " memang cantik." Seru gue becandain dia. Kita pun sedikit mengobrol sambil menunggu hujan sedikit mereda, membahas mau kemana nya kita, jam berpa kita akan pulang, dan gue yang memintanya untuk minta izin ke nyokap nanti kalau pergi. Tiba-tiba nyokap datang dari dalam rumah "mana ? Sudah datang sarwan ?." Sambil menjulurkan kepalanya ke samping pintu. "Ini, kehujanan" jawab gue ke nyokap. Singkat cerita gue pun masuk kedalam rumah lagi dan bilang ke nyokap kalau sarwan mau pamit. "Tante, saya jalan dulu sama tiara ya tante." Izin sarwan sama nyokap gue. "Iya hati-hati jangan pulang malam-malam yaa sarwan." Nasehat nyokap singkat. "Iya tante" menjawab nasehat nyokap, sambil mencium tangan nyokap begitu juga gue. "Asalammualaikum" ucap kita berdua sembari berjalan ke arah motor. Di atas motor kita banyak ngobrol. Hampir ngga ada jeda buat kita ngobrol kita banyak cerita satu sama lain. "Kita ke rumah ku dulu yaa.." Ujarnya di sela-sela pembicaraan ringan kita. "Hah?ngapain ?." Pikiran gue sama sekali ngga enak. "Ngga papa, saya kan sudah lihat rumahmu, gantian. Kamu yang liat rumah ku yah. Sekalian mau ambil jaket, saya kedinginan soalnya." Jelasnya ke gue dengan lembut. "Oh.. Iyaya kamu kan habis kena hujan. Ya udah ayok." Jawab gue dengan cepat, secara dia ke rumah gue hujan-hujan jadi gue yang ngga enak.
Pukul -/+ 19:30 *kediaman sarwan ngedihu*.
"Oh ini rumah mu." Seru gue ke dia. "Iya masuk yuk." Ajak nya ramah. "Ayuk, saya nunggu dimna?." Tanya gue sedikit takut sambil menyusuri lorong ke arah dapur bagian belakang.
"Eh kenapa ikut masuk." Serunya ke gue sambil ketawa. "Kenapa emangnya? Kan saya tamu. Tadi saya tanya, kamu juga nggak ngejawab jadi saya ikut masuk hehe." Seru gue balik ke dia. "Haha ya sudah ayok." Ajak nya sambil berjalan ke arah ruang keluarga dia yang di bagian depan. Sampai diruang keluarga gue langsung di suruh duduk di sofa, sendirian dan di hadapkan ke arah televisi yang nggak menyala. Rumahnya begitu sepi, seperti cuma dia yang tinggal di rumah yang besar ini sendiri. Lalu dia masuk ke dalam kamarnya yang letaknya di belakang tapi sedikit kesamping kiri dari sofa yang gue duduki. Setelah 3 menit dia berada di dalam kamarnya, dia keluar "sabar yaa.." Ucapnya lembut sembari menuju masuk ke dalam kamar yang ada sedikit jauh dari tempat gue duduk di pojok kiri depan. Lalu dia keluar lagi bersama ibu-ibu yang umurnya mungkin sudah 40 an, yang wajah nya begitu sama persis dengan wajahnya sarwan, bahkan sampai lesung pipinya pun sama. Ternyata dia memperkenalkan gue sama nyokapnya, mereka duduk bersama, dan begitu terlihat kalau sarwan begitu sarwan sangat menyayangi nyokap nya, terlihat saat dia mencium kening nyokapnya, di hadapan gue langsung. Gue langsung kangen sama nyokap gue, dan berasa pengen pulang. Gue dan nyokapnya ngomong-ngomong santai, nyokapnya nanya di mana gue tinggal, dan banyak pertanyaan-pertanyaan standar lainnya. "Cantik tidak ma?." Tanya sarwan dengan tertawa khasnya. Gue juga jadi ikutan ketawa, nyokapnya juga ketawa. Lalu sarwan nanya lagi "cantik tidak ma?, pacar ku ini." Serunya, jail lagi. "Nggak tante cuma teman." Bantah gue sambil ketawa. Singkat cerita kita pun pamit untuk pergi nyari makanan sambil menikmati malam minggu gue sendirian tanpa teman-teman cewek gue.
Pukul 20:30 *warung makan pinggir jalan. Di jalan ahmad yani, merauke*.
Kita memesan makanan, waktu itu yang gue pesan adalah nasi goreng yang pedas, dengan minum teh hangat. Sarwan memesan ayam goreng lalapan dengan nasi dan es teh. Begitu sederhana. Tapi gue ga tau kenapa senang aja makan di situ.
Sambil menunggu makanan tiba, kita ngobrol banyak seputar diri kita. banyak obrolan ringan yang kita obrolin. Obrolan-obrolan anak SMA. Tanpa mengurangi kesan serius, tapi santai. Sarwan yang gue kenal waktu malam itu beda dengan sarwan yang gue kenal di kelas. Dia jauh lebih lembut, tapi tidak mengurangi kesan humoris yang sudah melekat pada dia. Ternyata dia begitu menyayangi ibunya, begitu terlihat seperti anak mama tapi di sekoah di begitu terlihat seperti anak yang sama sekali hanya peduli dengan dirinya sendiri, dan terkesan kasar pada semua anak. Sampai di satu titik pertemuan pembicaraan kita. Dia mengatakan sesuatu yang sama sekali ngga pernah gue sangka. Dengan malu-malu dan ga mau menatap mata gue dia bilang "kamu, mau ngga jadi pacar ku?." Gue langsung ketawa kecil untuk menutupi rasa malu gue juga dan bilang " apa ? Saya ga dengar? Ngomong yang jelas dong, laki-laki padahal." Mencoba becandain dia. "Kamu, mau nggak jadi pacar ku!!!.?" Serunya lagi sambil melihat sekilas mata gue. "Apa ? Masa, kamu mau nggak jadi pacarku ngeliatnya ga ke arah saya. Ngomong sama siapa? Kamunya itu siapa ?" Seru gue yang sambil becandain dia lagi. Terus dia ngeliat mata gue dan megang tangan kanan gue lalu ngomong " tiara, kamu mau nggak jadi pacar ku?" Ucap dia tegas. "mm.. Gimna yaa mau ngga yaa, saya ga bisa jawab sekarang kasih saya waktu 2 hari." Jawab gue. "Yaampu 2 hari berarti kita sudah masuk sekolah. Saya ngga mau!!! Pokoknya saya mau begitu masuk sekolah hubungan kita sudah harus jelas. Saya kasih waktu sampai besok, bagaimana?." Bantahnya tegas sambil menyantap makanan nya. "Oke, besok sore yaa." Jawab gue santai. "Besok pagi tiara." Paksanya ke gue. Kita terus berdebat. Dan makanan pun sudah habis kita santap. Sampai di parkiran, dia menagih jawaban dari gue lagi. "Jawab sekarang saja apa susahnya?." Katanya. "Eh, janji nya kan besok." Seru gue. "Emangnya apa yang buat kamu mau jadikan saya pacarmu??." Tanya gue sinis. "apa yaa.. Kamu itu beda, kamu bukan tipe perempuan yang ketemu dengan cowok, hanya rame kalau di sms atau telfon, kamu bisa membuat saya tertawa, bukan hanya di sms atau telfon, kamu tidak hanya bisa membuat saya malu di sms atau telfon kamu bisa membuat saya tertawa, dan bisa selalu rame saat ketemu lansung." Gue langsung tertegun " ahh kayanya itu alasan klasik, semua perempuan begitu juga." Bantah gue seolah ga percaya. Nyokap tiba-tiba nelfon dan nanya di mana gue sekarang. Gue langsung bilang "ini habis makan, lagi mau pulang." Seru gue. "Ayok pulang yok. Mamaku nelfon nanya saya dimana sekarang?." Ajak gue buru-buru. "Oh yaudah ayok." Ajak nya sa,bil menyalakan motornya. " kamu janji mau jawab besok ya." Tambah nya. "Iyaa, saya janji." Gue ngasih jari kelingking gue, terus dia ngelingkarkan jari kelingking dia di kelingking gue, lalu gue ngasih lagi jari telunjuk gue, terus dia ngelikarin jari telunjuknya ke telunjuk gue, terakhir gue ngasih ibu jari gue, dan dia juga ngangkat ibu jari nya supaya ibu jari kita ketemu, sambil melingkar-lingkarkan jari-jari kita. Gue sambil ngomong "janji harus di tepati."
Singkat cerita, kita pun jadian, berbulan-bulan kita lewatin, dia ngenalin gue sama teman-temannya, ajak gue nongkrong sama teman-temannya, ngenalin gue sama saudara2nya, begitu juga gue, gue kenalin dia ke saudara-saudara gue, sampai nenek gue sakit dia yang nemenin gue nyari makan buat nyokap sama bibi gue, sampai gue sama dia pernah di marahin bokap gara-gara bokap takut gue di buat salah bergaul, akhirnya dia juga yang beraniin gue buat ngomong ke bokap kalau gue sama dia bukan kaya anak-anak yang lain yang pacaran tanpa sepengetahuan dari orang tua. Kita bahkan pernah nangis sama-sama karena ga tau kenapa selama hampir sebulan kita marahan mulu. Dia asli overprotective sama gue banget tapi selalu mau mengusahakan apapun buat gue bahagia. Selalu ngelindungin gue, ngasih tau gue mana yang baik dan buruk. Sampai pada saat 5 bulanan atau 6 bulanan hubungan kita, dia harus berangkat ke sulawesi buat liburan. Sebelum dia berangkat besok pagi, seharian kita sama-sama terus sampai malam nya gue nganter dia untuk nyari perlengkapan mandi seperti sikat gigi, dan sabun-sabun di salah satu toko di merauke. Saat itu waktu menunjukan pukul 22:15 gue seharusnya sudah harus pulang. Tapi dia bilang "kita mungkin bakal nggak ketemu agak lama." Katanya terdengar sangat dalam. Tapi ga mengurangi ke gentlean nya sebagai seorang cowok. "Habis ini kerumah ku dulu ya.." Ajak nya. "Untuk apa ? Ini sudah malam." Bantah gue sedikit tegas. "Sebentar saja, ini penting." Rayunya ke gue. "Yaudah boleh tapi cepat yaa.. Sudah malam lo.." Kebetulan waktu itu gue yang jemput dia di rumahnya, biasanya habis nganter dia ke rumah, dia malah nganter gue balik lagi ke rumah gue, dan ujung-ujungnya dia yang balik sendiri. "Iya cumbit.." Katanya lembut. Saat berada di dalam toko tersebut gue lagi pengen balon. Pas banget di dekat kasir ada balon yang mencuri perhatian gue. Sebenarnya bentuknya ya bulat biasa kaya balon pada umumnya tapi ga tau kenapa gue jadi jatuh hati sama balon yang ada di dekat kasir tersebut. Gue minta sarwan buat ngebeliin gue 2 balon biasa itu, dan dia beli'in.singkat cerita sampai di rumahnya sarwan, gue disuruh nunggu di dalam mobil dan ngga boleh keluar selama 10 menit, dan dia ninggalin gue sendirian, ga bilang mau kemana. 10 menit kemudian dia datang naik motor CB jadul warna merah yang dia pinjem dari teman bengkelnya, gue rada heran karena bingung untuk apa dia nunjukin motor yang jelas-jelas bukan punya dia. "Tinggal mobil di sini, terus kita keliling-keliling sama motor ini ya." Ajak nya sambil ketawa dengan gaya ketawa dia. Gue kaget tapi seneng abis, langsung aja gue kepikiran kenapa gue ga bawa 2 balon yang tadi dia beli'in di toko itu buat nemanin kita keliling-keliling. Tapi dia nolak, karna malu buat bawa 2 balon itu. Tapi gue pengen dan gue maksa. Akhirnya di menyepelekan rasa malunya buat ngajak gue keliling-keliling kota merauke yang kecil itu naik motor jadul dan bawa 2 balon. Sampai di sebuah belokan menuju bandara dia bilang sesuatu buat gue. "Apapun yang keluar dari mulut kamu akau selalu ingat, sekarang janji ku sudah terpenuhi yaa ngajak kamu keliling kota merauke ini pake motor jadul, walaupun motor nya minjem." Jelasnya sambil megang erat tangan gue. Gue tertegun dan sedikit terharu, gue aja baru inget kalau gue pernah ngomong kaya gitu ke dia setelah omongan dia tadi. "makasih yaa bum..." Ucap gue sambil menahan tangis dan balik megang tangan kiri dia dengan erat. Berbulan-bulan kita lewati, berbagai macam ujian kita lewati pelan-pelan,ada karena kegenitan dia, ada juga karena salah gue. Bokap yang awalnya ga setuju gue sama sarwan, perlahan jadi luluh da sewaktu lebaran terus nanya-nanya sarwan. Sekarang kenapa harus sarwan ? Karena banyak hal yang bisa gue Ceritain ke sarwan, yang ngga bisa gue ceritain ke siapa pun, bahkan jarang orang yang bakal mau dengar dan ngerti. Dia mau sama-sama gue gimana pun bentuk gue. Sampai pada malam tahun baru 2015, kita masih di izinkan tuhan untuk sama-sama. Selama sama dia gue ngga pernah terfikir, jangan kan terfikir sekilas terfikir aja ga pernah kebayang bakal berakhir. Tapi pada akhirnya masa itupun tiba, masa dimana kita lulus SMA, masa dimana kita harus bisa jadi kupu-kupu yang terbang sendiri, masa dimana masa depan gue dan dia beda. Dan gue udah harus siap kalau suatu saat gue dan dia ngga bisa sama-sama. Saat dimana antara gue sama dia udah harus saling mementingkan cita-cita kita ssendiri. Dan kita pun akhirnya bertemu di satu titik dimana kita udah capek buat memperdebat kan hal yang itu-itu saja. Akhirnya kita putus di bulan oktober 2015 awal, yang sebenarnya kurang beberapa hari itu adalah anniversarry kita. Kita berdua ngga pernah ngerayain anniv, dia ngga pernah ngasih gue apa-apa buat anniversary kita yang berupa barang. Tapi yang dia kasih ke gue, cuma kehadirannya di saat Gue butuh, pundaknya saat gue pengen nangis, telinga dia yang selalu setia dengerin keluh kesah gue tentang masalah yang gue hadapi tiap harinya. Awalnya gue ngga percaya, ternyata emang kita benar-benar ngga bisa sama-sama. Yang paling bikin gue jatuh hati adalah. Dia itu ngga pernah janji buat ngga ninggalin gue, tapi dia janji dia akan selalu ada dan selalu sama-sama gue apapun bentuknya. Berbulan-bulan kita jalan sendiri-sendiri, gue ngerasa gue kaya pincang. Berbulan-bulan kita ngga saling kontek-kontekkan, saat dimana gue udah mulai bisa buat lupain dia, tiba-tiba dia datang dan kita memulai komunikasi lagi, gue yang sempat ngeblok dia dari semua akun sosmed gue perlahan mulai membuka nya kembali, dia ngechat gue, kita video call-an, setelah lama banget ngga video call-an. Buat gue sarwan tetaplah sarwan yang gue kenal. Gue ngga bisa benci sama dia. Karena yaa, kita putus bukan karena salah satu dari kita ada yang udah ngga sayang, bosen, ngga di restui orang tua atau bahkan karna orang ke 3, sama sekali engga. Gue ngga pernah selingkuh, begitu juga dia. Dia pernah hampir nyelingkuhin gue tapi sayang ketahuan sama gue. Dia ngga pernah bosen sama gue, begitu juga gue ngga pernah bosen sama dia. Tapi kita milih berpisah, karena kita yakin suatu saat nanti kita bakal di temukan di waktu yang tepat dan di masa yang jauh lebih indah dari pada masa SMA kita. Sampai sekarang pun kalau di tanya gue masih sayang ngga sama dia bohong banget kalau gue bilang gue ngga sayang sama dia lagi. Bohong banget!!!!. Masih banyak memori yang gue simpan waktu sama dia. Buat orang-orang yang tau perjalanan pacaran kita, mereka sangat menyayangkan perpisahan kita, contoh seperti guru bahasa Indonesia gue. Tapi di titik ini kita memang udah ngga bisa buat sama-sama. Semuanya memang sudah ada waktunya, sudah ada masa nya, dan sudah ada tempat nya masing-masing. Siapa pun wan nanti wanita yang bisa buat kamu bahagia lebih dari gue, percaya deh cewek itu juaranya. Gue ngga tau lo bahagia atau ngga sama gue. Yang jelas gue bahagia sama lo. Sampai sekarang pun gue masih temenan sama si bumbitnya cumbit ini, sampai sekarang dia masih mau jadi teman cerita gue,sampai detik tulisan ini gue upload dia masih berteman sama gue dan gue bersyukur akan hal itu. Bukan karena kita ngga bisa melupakan atau karena kita ngga benar-benar saling menyayangi, tapi karena kita pernah menjadi 2 orang yang saling sayang banget, saling peduli banget, saling tau banget satu sama lain lalu harus terpisah karena keadaan dan jarak demi sebuah bongkahan emas besar yang ada di laut dalam. Dan butuh 1 kebahagiaan yang besar juga, yang harus di korbankan untuk dapat mengambil bongkahan emas besar itu, yang mereka sebut cita-cita.